News & Update

  • Home
  • Berita
  • Rektor Universitas Islam Cordoba Isi Refleksi Hari Kebangkitan Nasional di Dinas Pendidikan Banyuwangi
pages-image
shape

Rektor Universitas Islam Cordoba Isi Refleksi Hari Kebangkitan Nasional di Dinas Pendidikan Banyuwangi

Rektor Universitas Islam Cordoba Isi Refleksi Hari Kebangkitan Nasional di Dinas Pendidikan Banyuwangi

Banyuwangi — Rektor UI Cordoba Prof. Agus Trihartono, M.A., Ph.D. menjadi narasumber dalam kegiatan Refleksi Hari Kebangkitan Nasional dan Bedah Buku Man Nahnu 6 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi pada Selasa, 20 Mei 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Menulis sebagai Batu Bata Peradaban” dan dihadiri oleh jajaran pendidikan, guru, pegiat literasi, serta tokoh masyarakat Banyuwangi.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi menyoroti pentingnya budaya menulis sebagai upaya menjaga ingatan kolektif bangsa di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menyampaikan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui narasi, pemikiran, dan tradisi intelektual yang diwariskan lintas generasi.

Mengawali pemaparannya, Prof. Agus mengajak peserta merefleksikan kondisi masyarakat di era digital yang serba cepat namun sering kehilangan kedalaman makna. Ia menegaskan bahwa para pendiri bangsa dahulu mampu meninggalkan gagasan besar meski tanpa teknologi modern, karena mereka membangun peradaban melalui tulisan dan pemikiran yang bertahan lama.

Dalam bedah buku Man Nahnu 6 karya Samsudin Adlawi, Prof. Agus menyebut bahwa buku tersebut bukan sekadar kumpulan artikel, melainkan arsip psikologis Banyuwangi yang merekam denyut sosial, budaya, dan perjalanan masyarakat daerah. Menurutnya, konsistensi menulis menjadi bentuk kontribusi nyata dalam menjaga memori kolektif masyarakat Banyuwangi.

Ia juga menyoroti pentingnya guru sebagai penjaga peradaban. Menurutnya, ketika guru mulai menulis pengalaman, refleksi, dan gagasan, sekolah akan memiliki jiwa dan bangsa akan memiliki arsip pemikiran untuk masa depan.

Lebih lanjut, Prof. Agus mengajak seluruh insan pendidikan untuk tidak hanya mendokumentasikan kegiatan, tetapi juga menuliskan makna dan refleksi dari setiap proses pendidikan. Budaya menulis, menurutnya, merupakan bentuk perlawanan terhadap budaya instan dan lupa yang semakin dominan di era algoritma digital.

Kegiatan ini menjadi bagian dari sinergi antara dunia pendidikan daerah dengan perguruan tinggi dalam membangun budaya literasi, refleksi, dan penguatan intelektual masyarakat Banyuwangi. Kehadiran Universitas Islam Cordoba Banyuwangi dalam forum tersebut sekaligus menegaskan komitmen kampus dalam mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran budaya dan tradisi intelektual yang kuat.